Bayangkan hidup tanpa smartphone selama satu hari. Tidak ada WhatsApp, TikTok, Instagram, Google, aplikasi pesan makanan, transportasi online, atau bahkan AI. Bagi sebagian besar generasi sekarang, hal tersebut mungkin terasa cukup sulit. Teknologi sudah menjadi bagian dari hampir setiap aktivitas sehari-hari.
Teknologi memang membuat hidup menjadi jauh lebih mudah. Kita bisa berkomunikasi dengan seseorang yang berada jauh hanya dalam hitungan detik. Belanja tidak perlu keluar rumah, makanan dapat dipesan melalui aplikasi, tugas kuliah bisa dibantu dengan berbagai sumber digital, dan informasi yang dulu membutuhkan waktu lama untuk dicari sekarang bisa ditemukan dengan cepat.
Namun, kemudahan tersebut ternyata memiliki sisi lain.
Ketika kemudahan berubah menjadi tuntutan
Semakin banyak teknologi yang digunakan, semakin banyak pula hal yang bisa dilakukan dalam waktu yang sama. Kita dapat mengerjakan tugas sambil membuka media sosial, menerima pesan sambil menonton video, atau bekerja sambil mengikuti berbagai notifikasi.
Masalahnya, otak manusia tidak selalu bisa mengikuti kecepatan tersebut.
Notifikasi yang terus muncul membuat kita merasa harus selalu merespons. Pesan yang belum dibalas terasa seperti sesuatu yang harus segera diselesaikan. Media sosial juga membuat kita terus menerima informasi baru tanpa benar-benar memiliki waktu untuk berhenti.
Pada akhirnya, kita mungkin tidak benar-benar sedang melakukan banyak hal, tetapi merasa seperti tidak pernah selesai melakukan apa pun.
Media sosial dan rasa tertinggal
Teknologi juga mengubah cara generasi sekarang melihat kehidupan orang lain. Melalui media sosial, kita bisa melihat teman yang sedang liburan, mendapatkan pekerjaan, membeli kendaraan, membuka bisnis, atau mencapai sesuatu di usia yang masih muda.
Tanpa sadar, kehidupan orang lain menjadi standar untuk mengukur kehidupan kita sendiri.
Padahal, apa yang terlihat di media sosial hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Kita melihat keberhasilan mereka, tetapi tidak melihat kegagalan, masalah, atau proses panjang yang mereka lalui.
Akibatnya, muncul perasaan seperti “kok semua orang sudah maju, sedangkan saya masih di sini?”
Teknologi bukan musuh
Namun, menyalahkan teknologi juga bukan solusi. Teknologi pada dasarnya hanyalah alat. Persoalannya lebih kepada bagaimana manusia menggunakannya.
Internet dapat digunakan untuk belajar, tetapi juga dapat membuat kita kehilangan waktu berjam-jam. Smartphone dapat membantu pekerjaan, tetapi juga dapat membuat kita sulit beristirahat. AI dapat membantu menyelesaikan masalah, tetapi jika digunakan tanpa berpikir, kita bisa menjadi terlalu bergantung kepadanya.
Karena itu, tantangan generasi sekarang bukan lagi sekadar bagaimana menggunakan teknologi, tetapi juga bagaimana mengendalikan penggunaan teknologi.
Mungkin kita tidak membutuhkan teknologi yang lebih banyak
Kita sering berpikir bahwa semakin canggih teknologi, semakin mudah pula hidup kita. Namun, kenyamanan tidak selalu berarti ketenangan.
Mungkin yang dibutuhkan generasi sekarang bukan teknologi yang semakin banyak, tetapi kemampuan untuk menentukan kapan teknologi harus digunakan dan kapan harus ditinggalkan.
Sesekali, mematikan notifikasi, meletakkan smartphone, menyelesaikan satu pekerjaan tanpa membuka banyak aplikasi, atau sekadar menikmati waktu tanpa harus mengabadikannya di media sosial mungkin terlihat sederhana.
Tetapi di tengah kehidupan yang semakin cepat, hal-hal sederhana tersebut justru menjadi penting.
Pada akhirnya, teknologi seharusnya membantu manusia menjalani kehidupan, bukan membuat manusia merasa harus terus berlari.
Jadi, apakah teknologi membuat generasi sekarang lebih mudah atau lebih lelah? Mungkin jawabannya adalah keduanya. Teknologi telah membuat banyak hal menjadi lebih mudah, tetapi cara kita menggunakannya menentukan apakah kemudahan tersebut benar-benar membuat hidup lebih baik—atau justru membuat kita tidak pernah merasa cukup.
Penulis : Maulana Abdul Azis (Mahasiswa Magang UCIC)
Pembimbing : Syahrurafli Suhaedy
Dinas Tenaga Kerja Kota Cirebon
Jl. Kebumen No.2, Lemahwungkuk, Kec. Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat 45111
https://disnaker.cirebonkota.go.id
Instagram: @disnaker_kotacirebon