Banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa kerja keras adalah jaminan hidup layak, semakin rajin bekerja, semakin besar penghasilan, semakin baik masa depan. Sayangnya, di era ekonomi modern, keyakinan itu tidak selalu terbukti benar. Ada orang yang bekerja belasan jam sehari namun penghasilannya tetap pas-pasan, sementara ada pula yang justru bisa terus menghasilkan uang meski sedang tidak bekerja. Perbedaannya bukan terletak pada seberapa keras seseorang bekerja, melainkan pada level penghasilan tempat ia berada.

Tiga Level Penghasilan yang Perlu Dipahami

  • Jual Tenaga (Level 1)

Pada level ini, seseorang menukar waktu dan energi fisiknya secara langsung dengan uang, seperti buruh harian atau pengemudi ojek online. Begitu berhenti bekerja, penghasilan pun otomatis berhenti. Level ini juga yang paling berisiko, karena nilai tenaga fisik cenderung menurun seiring bertambahnya usia.

  • Jual Skill (Level 2)

Level kedua adalah menjual skill atau kemampuan khusus yang dibangun bertahun-tahun, misalnya sebagai programmer atau dokter. Meski penghasilannya umumnya lebih baik dan lebih stabil dibanding level pertama, pola dasarnya tetap sama, waktu masih ditukar langsung dengan uang (trading time for money). Semakin banyak jam kerja yang tersedia, semakin besar potensi penghasilan, dan sebaliknya.

  • Jual Sistem (Level 3)

Level ketiga adalah menjual sistem, yaitu membangun sesuatu yang bisa terus menghasilkan uang tanpa memerlukan kehadiran fisik langsung, seperti bisnis yang berjalan dengan tim atau proses yang sudah tertata, maupun investasi. Di level inilah waktu dan penghasilan mulai terlepas satu sama lain.

Mengapa Terjebak di Level 1 Berbahaya?

Persoalannya, sebagian besar orang memulai karier di level pertama, dan tidak sedikit yang bertahan di sana lebih lama dari yang seharusnya. Ada beberapa alasan mengapa kondisi ini berisiko.

Pertama, persaingan di level ini sangat tinggi karena pekerjaan yang mengandalkan tenaga fisik relatif mudah digantikan oleh orang lain yang bersedia dibayar lebih murah. Sebuah studi yang meneliti pengemudi ojek online di Indonesia menemukan bahwa penghasilan mereka sangat tidak stabil, sangat bergantung pada algoritma aplikasi, fluktuasi jumlah order, serta kenaikan biaya operasional, sehingga strategi bertahan yang mereka lakukan pun bersifat individual dan reaktif, seperti menambah jam kerja. Di sisi lain, Kementerian Ketenagakerjaan RI pernah memproyeksikan bahwa sekitar 23 juta pekerjaan berpotensi hilang akibat digitalisasi, sehingga tenaga kerja perlu terus meningkatkan keterampilan agar tidak mudah tergantikan.

Kedua, kenaikan biaya hidup kerap jauh lebih cepat dibanding pertumbuhan pendapatan dari kerja fisik. Sebuah analisis ekonomi menyebutkan bahwa ketika biaya hidup meningkat lebih cepat dibanding upah, kesejahteraan riil pekerja justru menurun, sehingga banyak pekerja tetap merasa penghasilannya "tidak pernah cukup" meski secara nominal terus naik. Kajian akademik lain turut menegaskan bahwa upah tenaga kerja di negara berkembang, termasuk Indonesia, sering kali tidak mampu mengimbangi laju kenaikan harga barang dan jasa, sehingga daya beli pekerja terus tergerus.

Ketiga, muncul semacam lingkaran setan: tekanan finansial yang terus-menerus dapat berdampak pada kondisi psikologis dan kognitif seseorang. Penelitian terhadap mahasiswa yang mengalami tekanan finansial menemukan bahwa tekanan tersebut tidak semata soal kekurangan uang, tetapi juga berkaitan erat dengan aspek kognitif dan psikologis yang tercermin dari perilaku keuangan sehari-hari. Ketika pikiran terus-menerus disita oleh kekhawatiran finansial, kapasitas seseorang untuk berpikir jernih, belajar hal baru, atau mengambil keputusan jangka panjang pun ikut menurun, sehingga makin sulit keluar dari pola kerja yang hanya mengandalkan fisik.

Bukan Berhenti Kerja Keras, Tapi Naik Level

Memahami tiga level penghasilan ini bukan berarti kerja keras menjadi tidak penting, melainkan mengingatkan bahwa kerja keras saja tidak cukup jika tidak diarahkan untuk naik level. Jangan hanya mengandalkan tenaga fisik sebagai sumber penghasilan utama. Sebuah kajian tentang strategi penguatan sumber daya manusia di tengah perubahan dunia kerja menekankan bahwa reskilling dan upskilling menjadi fondasi penting agar seseorang tetap relevan dan berdaya saing di tengah otomatisasi dan tuntutan kompetensi baru yang terus berkembang.

Waktu luang yang selama ini banyak dihabiskan untuk hal-hal pasif bisa dialihkan untuk mengasah skill baru, sehingga secara bertahap seseorang bisa naik dari level menjual tenaga menuju level menjual skill, atau bahkan mulai merintis level menjual sistem lewat bisnis kecil maupun investasi. Pemerintah sendiri melalui berbagai program literasi keuangan terus mendorong generasi muda untuk mulai memahami investasi sejak dini, karena instrumen semacam ini bisa menjadi sumber penghasilan tambahan sekaligus sarana membangun kekayaan jangka panjang yang tidak terikat langsung pada jam kerja.

Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih penting untuk ditanyakan bukan lagi "seberapa keras aku bekerja hari ini", melainkan "apakah aku sedang bergerak naik level, atau sekadar bertahan di tempat yang sama".

Referensi:

Al Hakim, R., & Amirah. (2025). Ketidakstabilan Pendapatan dan Strategi Adaptif Pengemudi Ojek Online: Analisis Manajemen Risiko dalam Ekonomi Gig di Indonesia. Jurnal Pendidikan Tambusai, 9(3), 40504–40513. Universitas Pancasakti Tegal.

Kementerian Ketenagakerjaan RI, sebagaimana dikutip CNN Indonesia. (2020). Kemenaker Proyeksi 23 Juta Pekerjaan Hilang Efek Digitalisasi. Diakses dari https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200708140126-92-522281/

CNBC Indonesia. (2026). Upah, Produktivitas, dan Masa Depan Kesejahteraan Pekerja Indonesia. Diakses dari https://www.cnbcindonesia.com/opini/20260501132044-14-731540/

Tiwu, M. I. H., & Angi, Y. F. (2024). Apakah Pertumbuhan Upah Menyebabkan Inflasi Ataukah Sebaliknya?. Jurnal Akuntansi: Transparansi dan Akuntabilitas, 12(1), 1–9. Universitas Nusa Cendana.

Rahmanto, N. D., Triono, H., Kinasih, H. W., & Purwantoro. (2026). Analisis dan Dampak Perilaku Keuangan Terhadap Tekanan Finansial: Studi pada Mahasiswa Akuntansi Universitas Dian Nuswantoro. COSTING: Journal of Economic, Business and Accounting, 9(4), 555–568.

Prosiding Webinar Nasional HUMANIS. (2026). Reskilling dan Upskilling Sebagai Strategi Penguatan Human Capital di Tengah Dinamika Perubahan Dunia Kerja. Universitas Pamulang.

Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan RI. (2023). Pemerintah Dorong Literasi Keuangan Generasi Muda untuk Tingkatkan Investasi di Pasar Keuangan. Diakses dari https://fiskal.kemenkeu.go.id/publikasi/siaran-pers-detil/528

Penulis : Muhammad Abdurrahman (Mahasiswa Magang UCIC)
Pembimbing : Syahrurafli Suhaedy

Dinas Tenaga Kerja Kota Cirebon
Jl. Kebumen No.2, Lemahwungkuk, Kec. Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat 45111
https://disnaker.cirebonkota.go.id
Instagram: @disnaker_kotacirebon