Kuliah seharusnya menjadi masa untuk belajar dan menemukan arah hidup. Namun, bagi banyak mahasiswa sekarang, masa kuliah justru sering dipenuhi pertanyaan tentang masa depan.
“Setelah lulus mau kerja apa?”
“Skill apa yang harus dikuasai?”
“Kalau jurusan kuliah tidak sesuai dengan pekerjaan nanti bagaimana?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi mahasiswa bisa menjadi sumber tekanan yang cukup besar. Apalagi ketika melihat teman sebaya yang sudah mendapatkan pekerjaan, membangun bisnis, mendapatkan penghasilan sendiri, atau bahkan terlihat sudah memiliki kehidupan yang terarah.
Ketika Semua Terlihat Sudah Berjalan
Media sosial membuat kehidupan orang lain terasa sangat dekat. Kita bisa melihat teman yang baru lulus sudah bekerja di perusahaan besar, mengikuti berbagai sertifikasi, membangun bisnis, atau membagikan pencapaian mereka.
Di sisi lain, kita mungkin masih sibuk menyelesaikan tugas kuliah dan bahkan belum tahu ingin menjadi apa setelah lulus.
Tanpa disadari, muncul perasaan bahwa kita tertinggal.
Padahal, apa yang terlihat di media sosial hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Kita melihat hasil akhirnya, tetapi tidak melihat proses, kegagalan, kebingungan, dan masalah yang mereka alami sebelum sampai di titik tersebut.
Takut Salah Memilih Karier
Salah satu alasan anak muda takut melangkah adalah karena merasa keputusan hari ini akan menentukan seluruh masa depan.
Memilih pekerjaan pertama, mengambil sertifikasi, belajar skill baru, atau menentukan bidang yang ingin ditekuni terasa seperti keputusan besar. Akibatnya, sebagian mahasiswa justru terlalu lama berpikir sampai akhirnya tidak melakukan apa-apa.
Padahal, karier tidak selalu berjalan lurus.
Seseorang bisa saja kuliah di bidang teknologi informasi, kemudian bekerja di bidang pemasaran digital. Ada juga yang awalnya bekerja sebagai karyawan lalu membangun usaha sendiri. Bahkan, seseorang bisa berpindah bidang setelah menemukan minat dan kemampuan baru.
Artinya, memilih langkah pertama bukan berarti harus menentukan seluruh perjalanan hidup.
Skill Menjadi Tuntutan Baru
Selain nilai akademik, mahasiswa sekarang juga sering merasa harus memiliki berbagai kemampuan tambahan.
Bahasa Inggris, desain, pemrograman, komunikasi, editing video, digital marketing, data analysis, hingga kemampuan menggunakan berbagai teknologi menjadi skill yang sering dianggap penting.
Masalahnya, terlalu banyak pilihan juga bisa membuat bingung.
Melihat orang lain menguasai banyak hal dapat membuat kita merasa harus mempelajari semuanya sekaligus. Akhirnya, bukannya menjadi ahli dalam satu bidang, kita justru kelelahan karena mencoba mengejar terlalu banyak kemampuan.
Padahal, membangun skill membutuhkan proses. Tidak semua kemampuan harus dikuasai dalam waktu yang sama. Yang lebih penting adalah mengetahui kemampuan apa yang relevan dengan tujuan yang sedang dibangun.
Membandingkan Proses Sendiri dengan Hasil Orang Lain
Perbandingan dengan teman sebaya sebenarnya bukan hal baru. Namun, perkembangan teknologi membuat perbandingan tersebut semakin mudah dilakukan.
Setiap hari kita dapat melihat pencapaian orang lain hanya melalui layar smartphone.
Teman sudah magang, kita belum.
Teman sudah bekerja, kita masih kuliah.
Teman sudah punya penghasilan, kita masih bergantung pada orang tua.
Teman sudah punya rencana masa depan, sementara kita masih mencari tahu apa yang sebenarnya ingin dilakukan.
Perasaan seperti ini sangat manusiawi. Namun, perlu diingat bahwa setiap orang memiliki kondisi, kesempatan, kemampuan, dan waktu yang berbeda.
Kesuksesan seseorang pada usia tertentu tidak otomatis menjadi ukuran bahwa orang lain mengalami kegagalan.
Jadi, Haruskah Takut Salah Langkah?
Takut salah langkah sebenarnya wajar. Yang menjadi masalah adalah ketika rasa takut tersebut membuat seseorang berhenti mencoba.
Tidak ada mahasiswa yang bisa mengetahui secara pasti bagaimana kehidupannya lima atau sepuluh tahun ke depan. Karena itu, daripada menunggu sampai merasa benar-benar siap, lebih baik mulai dari langkah yang kecil.
Mencoba magang. Mengikuti organisasi. Membuat portofolio. Belajar skill baru. Mengikuti proyek. Mencari pengalaman kerja. Atau sekadar mencoba bidang yang selama ini membuat penasaran.
Dari pengalaman tersebut, kita bisa mengetahui apa yang cocok dan apa yang tidak cocok.
Masa Depan Tidak Harus Langsung Jelas
Masa kuliah bukan perlombaan untuk melihat siapa yang paling cepat sukses.
Ada orang yang menemukan jalannya sejak awal. Ada yang baru menemukannya setelah lulus. Ada pula yang harus mencoba beberapa pekerjaan dan mengalami kegagalan sebelum akhirnya mengetahui apa yang benar-benar ingin dilakukan.
Yang penting bukan selalu seberapa cepat kita sampai, tetapi apakah kita terus bergerak dan belajar dari setiap langkah.
Mungkin saat ini kita belum memiliki pekerjaan impian. Mungkin skill yang dimiliki masih sedikit. Mungkin kita masih sering merasa tertinggal ketika melihat pencapaian teman.
Tidak apa-apa.
Karena masa depan bukan sesuatu yang harus langsung kita jawab hari ini. Masa depan dibangun sedikit demi sedikit melalui keputusan, pengalaman, kesalahan, dan keberanian untuk mencoba.
Jangan terlalu takut salah langkah. Karena terkadang, kita baru tahu jalan yang benar setelah berani berjalan.
Penulis : Maulana Abdul Azis (Mahasiswa Magang UCIC)
Pembimbing : Syahrurafli Suhaedy
Dinas Tenaga Kerja Kota Cirebon
Jl. Kebumen No.2, Lemahwungkuk, Kec. Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat 45111
https://disnaker.cirebonkota.go.id
Instagram: @disnaker_kotacirebon