Senin pagi baru saja dimulai, tetapi rasanya energimu sudah terkuras habis seperti Jumat sore. Sembari memandangi tumpukan tugas di layar laptop, kamu mulai bertanya-tanya pada diri sendiri: “Apakah aku salah pilih karier, atau aku saja yang kurang tangguh?”
Jawabannya: belum tentu dua-duanya.
Sering kali, yang membuat kita babak belur di tempat kerja bukanlah murni bobot tugasnya, melainkan overthinking, ekspektasi yang tidak masuk akal, dan beban emosional untuk selalu terlihat produktif di depan orang lain.
Mengapa Ini Bisa Terjadi?
Tanpa disadari, kita sering terjebak dalam lingkaran performa yang melelahkan akibat dua hal ini:
Penyakit Performative Work (Capek Kelihatan Sibuk): Adanya tekanan tak tertulis untuk selalu terlihat "gerak cepat". Kita sibuk membalas pesan dalam hitungan detik, menghadiri rapat yang sebenarnya bisa selesai lewat satu surel, atau berpindah-pindah aplikasi sepanjang hari. Energi mental kita habis bukan untuk menghasilkan karya, melainkan untuk menjaga citra bahwa kita sedang bekerja keras.
Quiet Carrying (Memikul Beban Diam-Diam): Fenomena ketika kamu terus-menerus menampung limpahan tugas tanpa berani berkata "tidak" atau meminta bantuan. Kamu takut dianggap tidak kompeten jika menolak, padahal kapasitasmu sudah berada di titik kritis.
Kondisi Otak yang Selalu On: Kebiasaan memeriksa notifikasi pekerjaan di luar jam kantor membuat otak berada dalam mode fight-or-flight secara terus-menerus. Tubuhmu mungkin sedang berbaring di kasur, tetapi pikiranmu masih tertinggal di meja kerja.
Langkah Praktis untuk Mengambil Alih Kendalimu
Kamu tidak harus keluar dari pekerjaanmu esok hari untuk mendapatkan ketenangan. Cukup ubah caramu berinteraksi dengan pekerjaan melalui langkah sederhana ini:
1. Pasang Batasan Komunikasi yang Tegas
Hentikan kebiasaan menjadi always available. Pasang status Away atau bisukan (mute) notifikasi aplikasi komunikasi kantor tepat saat jam kerja berakhir. Ingat, menunda membalas pesan di luar jam kerja bukanlah bentuk ketidakprofesionalan, melainkan bentuk penyelamatan kesehatan mentalmu.
2. Prioritaskan Impact, Bukan Busywork
Fokuslah pada hasil nyata, bukan pada durasi kamu menatap layar. Kelompokkan pekerjaanmu menggunakan teknik single-tasking: selesaikan satu tugas penting tanpa gangguan selama 45–60 menit, lalu istirahat sejenak. Pekerjaan selesai lebih cepat, dan kamu tidak perlu lagi berpura-pura sibuk.
3. Belajar Bernegosiasi Kapasitas
Menolak tugas tidak selalu harus berbunyi "Saya tidak mau". Kamu bisa menggunakan kalimat negosiasi yang profesional, seperti:
"Saat ini saya sedang memprioritaskan proyek A. Jika tugas B ini harus masuk sekarang, kira-kira proyek mana yang bisa kita geser tenggat waktunya?"
Ingat, pekerjaanmu adalah bagian dari hidupmu, bukan keseluruhan dari identitasmu. Kamu berhak untuk bekerja dengan tenang tanpa harus mengorbankan kewarasanmu setiap hari.
Penulis : Maulana Abdul Azis (Mahasiswa Magang UCIC)
Pembimbing : Syahrurafli Suhaedy
Dinas Tenaga Kerja Kota Cirebon
Jl. Kebumen No.2, Lemahwungkuk, Kec. Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat 45111
https://disnaker.cirebonkota.go.id
Instagram: @disnaker_kotacirebon