Kalian pernah ngalamin nggak sih, pas lagi buka story WhatsApp atau Instagram di malam Minggu, kalian sadar kalau notifikasi HP kerasa sepi banget? Kalau dulu waktu zaman sekolah atau awal kuliah HP rasanya nggak pernah berhenti berdering, sekarang circle nongkrong rasanya mengerucut jadi seukuran meja kopi saja. Mau ajak kumpul susah karena masing-masing sibuk dengan urusan hidupnya.
Tenang, kalau kamu lagi di fase ini, kamu sama sekali nggak sendirian.
Menyusutnya jumlah teman seiring bertambahnya usia adalah hal yang sangat wajar terjadi secara psikologis. Bukan berarti kamu jadi ansos (anti-sosial) atau dibenci orang lain. Ada penjelasan ilmiah dan masuk akal kenapa fenomena ini terjadi, dan kenapa pada akhirnya, quality (kualitas) jauh lebih penting daripada quantity (kuantitas).
Kapasitas Otak dan Energi yang Ada Batasnya
Secara ilmiah, antropolog asal Universitas Oxford, Robin Dunbar, pernah mempopulerkan teori yang disebut Dunbar’s Number. Riset ini menyebutkan bahwa kapasitas kognitif manusia punya batasan untuk mempertahankan hubungan sosial yang stabil.
Semakin dewasa, prioritas hidup kita bertambah. Ada urusan skripsi, pekerjaan, tagihan bulanan, sampai belajar mandiri. Energi mental kita sudah terkuras habis untuk bertahan hidup dan memikirkan masa depan. Otak kita secara otomatis menyaring mana relasi yang benar-benar esensial dan mana yang cuma sekadar "kenal lewat". Jadi, wajar banget kalau energi buat basa-basi ke banyak orang jadi terpangkas drastis.
Seleksi Alam Lewat Teori Socioemotional Selectivity
Psikolog dari Stanford University, Laura Carstensen, mencetuskan Socioemotional Selectivity Theory. Teori ini menjelaskan bahwa cara pandang kita terhadap waktu dan hubungan sosial akan berubah seiring bertambahnya usia.
Saat masih remaja, kita cenderung mencari kuantitas ingin kenal sama banyak orang untuk mengeksplorasi identitas diri. Namun, saat menginjak usia 20-an ke atas, orientasi waktu kita bergeser. Kita sadar kalau waktu hidup itu berharga. Alih-alih menghabiskan energi untuk drama pertemanan yang nggak jelas juntrungannya dengan banyak orang, kita lebih memilih menginvestasikan waktu pada segelintir orang yang tulus dan sefrekuensi.
Sedikit Teman, Tapi "Bikin Waras"
Sebuah studi dalam jurnal Social Development menyoroti bahwa di masa transisi dewasa muda, kualitas pertemanan memegang peran krusial dalam meredam stres dan rasa terasing. Punya teman ratusan di media sosial nggak bakal nolongin kamu waktu kamu lagi mental breakdown di tengah malam.
Sebaliknya, punya dua atau tiga sahabat yang paham kondisi kamu, nggak judgemental, dan siap mendengarkan tanpa harus pamer pencapaian, jauh lebih melindungi kesehatan mental. Hubungan yang berkualitas berfungsi sebagai support system yang sehat, bukan malah jadi beban pikiran baru.
Pelajaran dari Riset Kebahagiaan Terlama di Dunia
Kalau kamu butuh alasan pamungkas kenapa nggak perlu insecure cuma karena temanmu tinggal sedikit, tengoklah Harvard Study of Adult Development. Riset jangka panjang yang berjalan puluhan tahun ini menemukan fakta mengejutkan. kunci kebahagiaan dan kesehatan jangka panjang seseorang bukanlah seberapa banyak harta yang mereka punya, atau seberapa luas relasi kenalannya, melainkan kehangatan dan kedalaman hubungan dengan sedikit orang terdekat.
Jadi, Kesimpulannyaa...
Menyusutnya jumlah teman bukanlah tanda kegagalan sosial. Itu adalah proses pendewasaan yang alami. Kamu jadi lebih tahu batasan diri (boundaries), lebih selektif menjaga energi, dan lebih menghargai ketulusan di atas kepalsuan sosial.
Jadi, kalau sekarang circle kamu tinggal hitungan jari, syukuri saja. Karena di dunia yang serba bising ini, punya sedikit teman yang beneran ada buat kamu jauh lebih berharga daripada punya seribu teman tapi rasanya sendirian.
Lagi pula, punya sedikit teman itu ada untungnya kok... pengeluaran waktu ngopi lebih hemat, grup WhatsApp nggak gampang full memori HP, dan yang paling penting... kalau mau minjem duit nggak perlu bingung nolak alasan "lagi tanggal tua" ke ratusan orang sekaligus! 😄
Refrensi :
Chandra, G., & Harahap, F. (2023). Hubungan Kualitas Persahabatan dengan Kebahagiaan pada Mahasiswa. [Acta Psychologia](https://journal.uny.ac.id/index.php/acta-psychologia/article/view/58850).
Salsabila, A. R., Hermina, C., & Julaibib, J. (2024). Kualitas Pertemanan dan Kesejahteraan Psikologis: Perspektif Mahasiswa. [Jurnal Psikologi Wijaya Putra](https://jurnal.uwp.ac.id/fpsi/index.php/psikowipa/article/download/131/90).
Trisnawati, N. A., dkk. (2025). Hubungan Antara Kualitas Pertemanan dengan Subjective Well-Being. [Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial](https://ojs.daarulhuda.or.id/index.php/Socius/article/download/2674/2818).
Penulis : Syifa Seisya Rahmi (Mahasiswi PPL BKI UINSSC 2026)
Pembimbing : Syahrurafli Suhaedy
Dinas Tenaga Kerja Kota Cirebon
Jl. Kebumen No.2, Lemahwungkuk, Kec. Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat 45111
https://disnaker.cirebonkota.go.id
Instagram: @disnaker_kotacirebon